Meneladani Perikehidupan Semut Berdasarkan Penafsiran Ayat Al-Quran

 

MENELADANI PERIKEHIDUPAN SEMUT BERDASARKAN

PENAFSIRAN QURAN SURAH AN-NAML : 18 - 19



Oleh:

Nastiti Reywinata (12204193037)

Tadris Matematika 6B

UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung




Menurut Hamka, semut merupakan hewan berukuran kecil namun memiliki kepribadian yang sangat kuat dan tidak pernah putus asa dalam melakukan hal apapun. Sedangkan menurut Ibnu Katsir, semut merupakan hewan yang suka hidup berkelompok. Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa semut mempunyai keunikan, yaitu berupa ketajaman indra dan sikapnya yang sangat berhati-hati serta kerja kerasnya yang tinggi. Definisi lain dari semut adalah salah satu makhluk Allah SWT yang diciptakan dengan berbagai kemampuan. Semut memiliki morfologi tubuh yang terdiri atas 3 bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Habitat semut sangatlah beragam, semut dapat hidup didalam sarang yang terletak di bawah tanah, di bawah batu, maupun di bawah bangunan yang terbuat dari pasir atau kerikil.

 

Semut selalu hidup secara berkelompok dengan struktur sosial serta pembagian tugas atau pekerjaan yang sangat efisien. Penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan dunia hingga saat ini belum sanggup mengungkapkan secara detail mengenai kehidupan sosial semut. Akan tetapi, terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa untuk menjalani kehidupan sosial yang sangat terorganisasi, sebenarnya semut memang sudah dibekali kemampuan berkomunikasi yang canggih. Semut merupakan salah satu hewan yang dapat dijuluki sebagai si pekerja keras. Ketika memasuki musim panas atau musim dingin, semut akan mengumpulkan makanan dan makanan yang didapatkan akan mereka bawa ke dalam sarang yang telah tersedia. Makanan semut dapat berupa hewan, misalnya serangga ataupun hewan kecil lain.


Dibagian kepala semut terdapat alat yang berfungsi agar semut dapat mengenali sinyal. Semut juga dibekali mata yang berfungsi baik dan sungut yang berfungsi sekaligus menjadi hidung, berguna untuk mencium. Sedangkan tonjolan-tonjolan dibawah mulutnya berfungsi sebagai pengecap, serta rambut-rambut desekujur tubuhnya berfungsi terhadap benda-benda disekitarnya sebagai organ penyentuh. Sebenarnya banyak hal mengejutkan apabila lebih memperhatikan secara seksama mengenai hewan semut. Salah satunya mengenai cara mereka berkomunikasi satu sama lain. Hewan semut berkomunikasi menggunakan feromon, yaitu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pada semut. Begitu seekor semut mengeluarkan feromon, maka semut lainnya akan menerimanya lantas bereaksi terhadapnya.

 

PENAFSIRAN AYAT AL-QURAN MENGENAI PERIKEHIDUPAN SEMUT   


Pembahasan ayat mengenai kehidupan semut yang terdapat dalam surat An-Naml : 18 - 19


حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ  ١٨ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكٗا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ  ١٩


Artinya:

18.Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";

19.Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".

 

Ayat diatas bercerita mengenai pasukan perang Nabi Sulaiman yang banyak, lengkap diiringi oleh orang-orang kerajaan, dan sampailah mereka ke suatu lembah yang disana terdapat sarang semut. Menurut al-Mahalli dan as-Suyuthi dalam Tafsir Jalalayn, semut merupakan makhluk yang dapat berbicara dan berkomunikasi. Melihat datangnya pasukan perang Nabi Sulaiman, seorang pemimpin semut berkata kepada kawan-kawannya untuk masuk kedalam sarang agar tidak terinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman. Sedangkan Nabi Sulaiman yang diberi mukjizat Allah SWT dapat memahami bahasa binatang langsung tertawa ketika mendengar perkataan sang pemimpin semut tersebut. Sambil tertawa, Nabi Sulaiman juga lantas berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan-Nya.


Dalam Tafsir al-Jawahir, Thantawi Jauhari menjelaskan bahwa tersenyumnya Nabi Sulaiman dapat jadi disebabkan 3 hal, diantaranya yaitu 1) Karena heran atas semut yang menakut-nakuti teman-temannya. 2) Karena Nabi Sulaiman merasa bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah SWT, yaitu dapat memahami bahasa binatang, serta 3) Karena sebagai petunjuk bagi pembaca Al-Quran agar memiliki hati yang mulia, yaitu hati yang selalu diisi dengan rasa syukur. Hikmah yang dapat dipetik dari Q.S. An-Naml ayat 18 dan 19 ini adalah pelajaran mengenai rasa syukur seperti yang dimiliki hewan semut. Meskipun mereka makhluk kecil, akan tetapi hati mereka sangat mulia. Mereka selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dengan cara menerima segala ketentuan-Nya atas takdir mereka.


Pembahasan mengenai semut dalam Al-Quran juga menarik apabila dikaji dengan Tafsir bi’Ilmi (tafsir sains pengetahuan). Berdasarkan ilmu sains, semut merupakan makhluk hidup yang masuk dalam kajian ilmu biologi. Semut adalah hewan dari jenis serangga kecil, mempunyai kehidupan yang sangat terorganisir, sitematis, dan kekeluargaan. Thantawi Jauhari dalam Tafsir al-Jawahir juga turut memberikan penjelasan mengenai Q.S. An-Naml ayat 18 dan 19 ini dengan Tafsir bi’Ilmi. Ia menjelaskan bahwa semut-semut tersebut mempunyai jiwa gotong royong tinggi. Mereka dapat menyusuri tempat-tempat yang sukar secara bersama-sama, mereka juga membantu para semut lansia maupun semut anak-anak untuk menjalani hidup. Apabila terdapat semut yang kesulitan dalam mengangkat makanan, mereka akan saling membantu secara bersama-sama.


Kita sebagai manusia wajar apabila kagum dengan sistem kebersamaan hewan semut. Mereka sebagai makhluk yang kecil dapat membuat jalan yang sangat panjang dan kokoh dari tanah. Mereka bekerja pada siang hari, lalu pada malam hari mereka akan kembali ke sarangnya. Proyek pembuatan jalan seperti ini tentu tidak dapat dilakukan tanpa adanya sistem organisasi yang rukun serta disiplin. Allah SWT telah menciptakan makhluk yang sangat istimewa seperti semut. Kita sebagai manusia dapat belajar serta meneladani sifat yang dimiliki oleh semut, misalnya dalam hal berorganisasi. Secara tidak langsung hewan semut juga membuktikan bahwa pada saat menjalankan kehidupan bermasyarakat, tatanan organisasi yang baik, akan membuat kehidupan menjadi lebih teratur dan lebih mudah dijalani.



Sumber Rujukan

Al-Quran Terjemah (Q.S. Al-Naml ayat 18 dan 19).

Hamka. 1992. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Nasional.

Ismail Bin Katsir Quraish Al-Dimasyqi, Abul Fida. 1980. Tafsir Al-Qur’anul Azim. Mesir: Darul Fikri.

Jauhari, Thantawi. Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Quran Al-Karim. Mesir: Musthafa Al-Bab Al-Halbi.

Kementrian Agama RI dan LIPI. 2012. Tafsir Ilmi: Hewan dalam Perspektif Al-Quran dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran.


Komentar